Siapa di sini yang tidak kenal dengan Michael Jackson? Seorang penyanyi, penulis lagu, dan penari legendaris asal Amerika yang dijuluki sebagai The King of Pop, rajanya Pop. Bukan hanya tentang penampilannya yang nyentrik, atau suaranya yang khas, legendaris Pop ini memanfaatkan anugerah vokalnya untuk hal yang jauh lebih besar. Michael Jackson dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, Ia mendukung lebih dari 39 organisasi amal dan merilis lagu-lagu bertemakan kemanusiaan seperti "We Are the World", "Heal the World", dan "Earth Song". Michael memanfaatkan kelebihannya dalam bernyanyi untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. Ia sadar bahwa seni vokal tidak hanya sebuah hiburan belaka, tetapi memegang kekuatan dan makna yang jauh lebih besar dari itu.
Secara biologis sendiri, vokal adalah satu-satunya instrumen musik yang hidup dan menyatu langsung dengan tubuh manusia. Saat seseorang bernyanyi atau berbicara dengan intensitas tinggi, getaran tersebut secara fisik dapat dirasakan oleh pendengarnya, menciptakan sebuah koneksi yang tidak bisa ditiru oleh instrumen musik apapun. Suara vokal juga menstimulasi saraf vagus, suara yang lembut dapat secara instan menurunkan detak jantung dan menenangkan sistem saraf pusat pendengar. Vokal adalah ekspresi yang paling jujur karena tidak ada yang menghalangi antara seniman dengan audiensnya.
Keunikan lainnya, suara manusia berada pada rentang frekuensi yang paling peka bagi telinga manusia lainnya. Dari masa ke masa, kita diciptakan untuk memperhatikan suara manusia di atas suara alam lainnya demi kelangsungan hidup, seperti teriakan peringatan atau tangisan bayi. Bahkan dalam sebuah komposisi musik, tak bisa dipungkiri bahwa suara vokalis selalu menjadi titik fokus utama yang diperhatikan oleh pendengar, Ia selalu menjadi matahari di tengah-tengah planet dan asteroid yang mengitarinya. Seindah apapun bunyi sebuah instrumen musik, suara manusia adalah yang paling indah diantaranya.
Begitupun dengan saudara-saudara kita di Palestina, seni vokal menjadi bentuk perlawanan, pelestarian identitas, dan sarana untuk menyampaikan pesan kemanusiaan ke seluruh dunia. Mohammed Assaf contohnya, seseorang yang lahir di sebuah kamp pengungsian. Di balik keterbatasan-keterbatasan yang Ia miliki akibat dampak dari peperangan ini, suaranya yang kuat dan jernih sering membawakan lagu-lagu rakyat Palestina yang kemudian membangkitkan semangat nasionalisme dan harapan rakyat Palestina, menjadikannya simbol "suara rakyat" yang berhasil menembus batas-batas blokade. Ia membuktikan bahwa seni vokal bisa menjadi bentuk Soft Power. Ia menunjukkan kepada dunia, sisi lain dari Palestina yang sering kali hanya digambarkan melalui berita konflik, sisi yang memiliki talenta seni luar biasa, kegembiraan, dan kecintaan pada kehidupan. Ia menyadarkan kita bahwa semua orang memiliki hak yang sama, semua orang berhak untuk hidup dalam kedamaian, keamanan, dan keselamatan.
Seni vokal merupakan sebuah samudera yang sangat luas, yang memendam banyak harta karun berharga di dalamnya. Layaknya sebuah intan, permukaannya berkilau indah nan membiaskan cahaya dengan cantik, tetapi jika dilihat lebih dalam, ia adalah material alami paling keras dan kuat di bumi. Ia tidak hanya indah untuk dinikmati, tetapi juga indah untuk membawa perubahan. Ia kuat, berkuasa, berpengaruh, dan terlebih dari itu, Ia berada dalam tiap diri kita masing-masing.
***
